MEMAKNAI PERHIASAN DAN KEPRIBADIAN PEMAKAINYA
Oleh : Mimi Fatimah
Perhiasan merupakan penunjang penampilan. Perhiasan
yang sering dikenal orang diantaranya emas. Orang sudah memakainya sejak zaman
Mesir kuno 5550SM, dan sudah menjadi tradisi untuk memakai maupun mengoleksi
perhiasan pada zaman Jawa kuno. Para penguasa dan bangsawan pun menggunakannya
sebagai lambang kekayaan, dan symbol kekuasaan. Hal tersebut terus berlangsung,
bahkan semakin berkembang sampai zaman generasi Z meskipun mengalami berbagai
penyesuaian.
Perhiasan merupakan faktor pendukung dalam
penampilan yang sering dikaitkan dengan selling diri disamping kesenangan akan
keindahan saja. Ya itu manusiawi bukan, secara general sifat manusia
diantaranya berorientasi material. Show of performance tersebut akhirnya
mendasari manusia untuk selalu memperhatikan penampilan, apalagi yang sedang
bermaksud untuk menjual diri (personal branding) dalam rangka membangun citra
diri yang kuat. Hal ini dipaparkan oleh pakar Personal branding, ibu Dewi
Haroen bahwa salah satu cara personal branding adalah dengan mengenakan
perhiasan.
***
Dalam filosofinya, tdak semua personal branding
merupakan selling, mengenakan perhiasan juga merupakan bentuk menyukai
keindahan. Latar belakang menjadi berbeda lagi pada saudara kita para
penjual jasa. Bagi beliau-beliau itu setengah
hukumnya wajib untuk mengenakan sesuatu untuk mendukung performance atau apalah
yang bisa meningkatkan trust masyarakat.
Berbicara mengenai trust, ada sedikit cerita dari
saya. Suatu hari saya pernah dinasihati emak dan suami saya untuk memantas diri
dengan memakai perhiasan, berbusana pantas serta ber make up. Tetapi sifat dasar saya memang tidak suka
berhias, apalagi belum merasa butuh. Oleh karenanya saya sering mengabaikan
masukan orang tua maupun suami saya tentang penampilan.
Sampai suatu hari saya kedatangan tamu di tempat
kerja, yaitu dari lembaga finance. Pada saat itu yang terjadi adalah pegawai
magang di kantor saya lebih dihargai daripada saya, catch you. “Hallo hallo pak
bu, ini lo pekerja tetap yang sesungguhnya” ujar saya dalam hati. Sportif saja
saya akui karena teman magang berpenampilan Oke, outfit of the day dan
eyecatching (diborong semua dah). Untungnya saya orangnya tidak mudah baper dan
pemaaf. Sehingga hal itu lewat begitu saja seperti iklan di depan saya, sambil
menggumam dalam hati ah itu tidak penting (PD atau keras kepala, sepertinya
beda tipis).
Dari kejadian itu tidak membuat jera bagi saya, saya
tetap tidak merasa butuh dan merasa itu bukan sebuah masalah (namanya juga
tebal muka haa). Tetapi sejak itu saya jadi suka memperhatikan, mengapa para
pekerja kantoran suka memakai make up, sepatu high hill, busana yang pada
sekali sight seeing orang tahu dia itu pekerja kantor. Belum yang laki-laki
licin bersih, dan rapi (sepertinya hanya saya saja yang tetap istiqomah tidak
ingin berpenampilan lebih walaupun orang banyak sudah saatnya saya
berpenampilan).
Hasil dari pengamatan saya, sedikit dapat
disimpulkan bahwa tidak ada pola khusus dalam panduan memakai perhiasan (atau
mungkin ada tetapi saya tidak tahu). Pengamatan saya lebih mengerucut lagi,
bahwa semua perhiasan yang dipakai disesuaikan dengan jiwa masing-masing
pemakainya. Nah ini baru pas.
# Perhiasan emas kuning; dipakai seorang
perempuan yang feminim. Pada gelang yang kecil semakin feminim (bukan berarti
semakin besar semakin maskulin ya).
# Perhiasan emas putih; dipakai orang yang jelas
tidak berkulit gelap, kadang juga supaya tidak kelihatan emas.
# Perhiasan emas Dubay; ingin kelihatan lebih menarik,
personal branding yang kuat dan berkelas
karena memikat siapa yang memandangnya.
# Cincin; biasanya dipakai sebagai lambing orang
yang sudah menikah. Hal ini dikaitkan dengan kesetiaan, pribadi yang kuat dan
menghargai masa lalu
# Cincin Batu; ingin berkharisma, apalagi jika
yang bermuatan baik dari batunya maupun ada aura lain yang ada dalam batu
tersebut
# Gelang akar bahar, Gelang dari kulit, gelang
dari tali gunung (alpina, eiger dll); orang yang casual, alay, santay dan cool
# Gelang tasbih dari berbagai bahan; melambangkan
suka religi. Harapannya ketika senggang dapat digunakan untuk berdoa dan
berdzikir pada umat muslim, pada non muslim juga digunakan sebagai tanda
pengingat Tuhan.
# Anting; orang yang menggunakan anting
ditengarai sebagai seorang pekerja keras dan bekerja praktis. Hal ini dikaitkan
dipakai dimanapun berada termasuk walau ketika di rumah dan dalam kondisi
apapun.
# Kalung; orang yang romantis, lembut, percaya
diri, penyayang dan romantis.
# Jam tangan; melambangkan orang yang bisa
menghargai waktu, bijaksana, taat peraturan dan hati-hati.
# Tidak pakai perhiasan apa-apa; (jadi ngga enak
ini, percayalah, orang ini baik sekali, teman-teman). Rajin, ramah suka bekerja
dan sopan (tentu saja ini saya lebihkan karena saya termasuk kategori ini...
Begitulah, saya merasa puas dengan penelitian
kualitatif saya yang didukung dengan berbagai literasi. By the way lama saya
tertegun memandang tiga gelang kulit yang saya beli dari gerai Eiger di tengah
kota tadi siang. Sejak SLTP saya sangat menyukainya, hanya sayangnya style
fisik saya sangat tidak mendukung untuk memakainya. Apalagi sekarang saya sudah berkeluarga
dan tidak lagi muda.
Suami saya pernah berkata, "Ga usah dipakai
Mih malu-malu in Apih". Pernah juga suami berkata,"Boleh kamu pakai tapi
jangan pas jalan sama saya", dan saya dengan berat akhirnya menurut
perkataan suami. Padahal gelangnya bagus bingit (kata saya, iya dong,
masa kata orang lain), buktinya satu dari 3 gelang saya tersebut sudah
saya berikan kepada pak kepala cabang saya karena beliau menyukainya. Berarti
tidak salah selera saya kan…
Saya bayangkan, saya pakai gelang tersebut dengan
busana casual berjalan di setiap sudut kota sambil terdengar alunan lagu
Yogyakarta the legend of Kla Project. Mmm...memang jiwa alay saya tidak pernah
padam. Ethernal, walau usia sudah mewarning untuk tidak memakainya. Entah lah
mungkin suatu saat anak saya yang akan memakainya. Itupun jika pribadinya
seperti emaknya, Hahay...

Komentar
Posting Komentar