SEKOLAH ONLINE YANG SEBENARNYA
Curhat mbakyuku
Beberapa hari lalu teman dekat saya yang sudah lama tidak berkabar kedapatan menyapa via wapri. Pukul 21 lebih sekian, sebenarnya belum malam-malam sekali tetapi karena pekerjaan sehari-hari crowded masih harus begadang membuat berat mata ini untuk terus melanjutkan chat. Kasihan Rani mungkin ada sesuatu yang mau disampaikan atau sekedar kan
Ga tau ngapa tiba-tiba obrolan semakin butuh konsentrasi ketika teman saya mengatakan dia dan teman-temannya kecewa dengan transaksi pendidikan yang dilakukan seseorang. Ooo transaksi pendidikan, pada zaman sekarang ya wajar to kalau mau sekolah lagi mesti kudu bayar dulu di muka. Moso mrengkel, ga ada registrasi langsung mengikuti perkuliahan, memang fakultasnya simbah.
Tetapi ada yang aneh dengan cerita teman saya. Dia berserta sekitar 50 orang lainnya ditawari untuk sekolah S2 dengan membayar sekian puluh juta rupiah dengan dijanjikan sudah sampai selesai (sampai dapat toga ya). Kata Rani tidak perlu pakai daftar kehadiran, tidak usah nggarap tugas (ga tau modelnya bagaimana), ada perkuliahan atau tidak juga tidak dijelaskan.
Dan yang lebih aneh lagi, pendaftarnya cukup banyak. Sebagian besar dari kalangan pekerja kantoran (ASN). Ada yang ibu dengan anaknya ikut mendaftar dan memasukkan uang pendaftaran yang jumlahnya lumayan besar. Sementara teman saya dan beberapa teman sekerjanya baru membayar uang panjar (DP).
Belum lagi si penawar jasa tersebut mengiklankan akan membuka kelas baru di perguruan tinggi swasta lokal yang berafiliasi dengan lembaga pendidikan tertentu (pembelajaran jarak jauh). Tetapi ternyata sampai sekarang kuliah sudah berlangsung tetapi ijin belajarnya ga keluar-keluar.
Hlah sampai di sini saya tetap tidak dapat menyatakan bahwa orang tersebut oknum. Apalagi sampai dengan detik sekarang teman saya bercerita bahwa tidak ada satu orang pun yang melaporkan kejadian tersebut atas dasar delik aduan apa pun. Berarti ikhlas kan…ga boleh nggrundel lo ya kalau begitu.
Sang penawar jasa dengan berbekal penampilan yang keren dan mobil mahal yang dikendarai, telah berhasil menarik trust orang supaya rela memberikan uang yang bukan receh lagi bagi banyak orang. Lagi-lagi personal branding menumbuhkan trust dan memikat banyak orang, padahal sampai sekarang masalah pembelajaran tersebut belum ada titik terangnya, Wedeh…
Saya sendiri sekolah sampai berdarah-darah saat menyelesaikan program S2, pada universitas yang termasuk ke dalam jajaran 10 besar di Indonesia. Menggunakan program tugas belajar yang prosesnya juga ga kaleng-kaleng rumit, maklum kelas BPJS PBI (gratis begitu teman-teman menyebutnya). Proses belajar dan tugas-tugas juga saya merasa harus bener-bener dikerjakan. Belum lulusnya yang lama karena gonta ganti judul thesis. Ya marem gitulah kojur awak, tapi itulah perjuangan ada rasa puas terselip dalam hati.
Cuma saya ga menyalahkan juga teman-teman yang mengambil langkah mencari kemudahan bersekolah, karena terbentur keadaan seperti tadi, ya repot, ya keluarga, ya bisnis dan serangkai ya lainnya. Barangkali ini yang dinamakan era artificial inteligensia ala-ala dunia pendidikan belajar pakai mesin, IT, atau kreatifitas mencari kemudahan yang menyesuaikan kebijakan.
Tidak terbersit dalam pikiran untuk menuduh mereka mencari jalan pintas pada mereka (seperti penelitian Muchtar Lubis, Manusia Indoensia). Bisa jadi karena mereka sibuk dengan pekerjaannya yang penuh deadline dan konsentrasi, juga penuh risiko sehingga para pendaftar tersebut seakan ketemu jodoh dapat tawaran seperti itu. Ya hitungannya cincai lah dengan pembayaran yang diberikan, karena simbiosis mutualisma gitu. Situ dapat kemudahan gue dapat cuan.
Baik, kalau begitu berarti boleh ya mencari sekolah yang memudahkan, asalkan memenuhi syarat dan kondisional tertentu, sama-sama memaklumi kondisi maupun kebutuhan. Hal yang persis sama teringat perkataan teman di tempat kerja saya yang menceritakan si Anu yang juga tidak tahu kapan mendaftar dan kapan kuliah ternyata sudah ikut wisuda dan memakai toga.
Masih berusaha memaklumi dalam hati tentang hal itu, ya gapapa sih asalkan orangnya juga dapat dipercaya kualitas dan kapasitasnya. Artinya orangnya tidak mengecewakan, kualitas juga bagus, dan seperti itu terjadi hanya karena ga sempat saja belajar karena masih bertugas padahal sebenarnya mampu.
Memang kelulusan pada penerapannya tidak menunjukkan dari sekolah mana seseorang itu berasal. Sebut saja Pak Sastro lulusan universitas ternama atau pak Mukiyo lulusan universitas deket stasiun, tidak ada pembedaan. Pada bukti kelulusan yang muncul adalah judulnya gelar S2 atau sekolah profesi atau gelar yang mendukung untuk kenaikan pangkat ataupun golongan bagi dia.
Begitulah ekses dari diterapkannya merit system dalam Undang-Undang Nomor 5/2014 salah satunya adalah instrument kompetensi. kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang. Belum lagi dengan kebijakan pemerintah tentang jabatan fungsional yang menyebutkan bahwa dengan bertambahnya pendidikan dapat menambah angka kredit dalam SKP penilaian.
‘Ha terus njenengan piye mbak Ran?” Tanya saya pada teman dekat saya. “Untung aku baru kena 10 juta. Dan teman-temanku juga rata-rata 5-20 juta.” Jawab teman saya. “Terus balik nggak?” tanyaku mengejar . Rani tertawa …”ya ndak lah, boro-boro balik” selorohnya santai. Mungkin dia sudah benar-benar ikhlas melepas uang nya. Dan sekarang Rani akhirnya mengambil sekolah di kota terdekat dari kota dia.
Halah Raan Raan… mbokya dari pertama kamu sudah sekolah di deket kotamu itu, daripada harus menyumbangkan donasi untuk kenalanmu yang dandy dan gak jelas itu. Lalu bagaimana dengan saya yang sekolah mutual bak anak fresh graduate? Eits mosok mau nyesel kuliah di universitas bergengsi, ha yo tidak.
Saya bisa halan-halan ke kota besar dan kenal dengan Profesor dan Doktor setingkat ring I, ilmunya pun tentunya dari orang pertama, memiliki priviledge akses ke link I juga kenal dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke.
Walaupun dalam hati saya berkata, ternyata sekolah yang deket dan kelas jauh pun outputnya sama. Malah bisa sambil kerja dan deka dengan keluarga, juga ndak keluar duit banyak. Tambahan bagi ASN yang sudah menjabat juga tidak perlu menonaktifkan jabatannya seperti konsekuensi pejabat yang akan tugas belajar.
Hlah kok saya jadi iri…Hanya mau menyimpulkan saja sih bukan mau kecewa, jadi sekolah bonafid maupun bukan tidak berbeda secara signifikan bagi pegawai. Asalkan sekolah beneran bukan hanya invest.
Mencari sekolah yang benar tidak asal, perlu berbagai pertimbangan jangan sampai bermasalah di belakang hari. Apalagi yang model seperti Rani ini. Proyek mangkrak dan menyumbang donasi yang dipaksakan.

Komentar
Posting Komentar