Fotografi, Salah Satu Bentuk Kecerdasan yang Menghibur
Instagram : @afstory
Santri di IR society
Sebaiknya baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. HR Ahmad, Thabrani, Ad Daruqutni. Itulah yang membuat saya terobsesi untuk selalu produktif, entah bentuk apa supaya dapat bermanfaat. Sayangnya menjadi seorang yang _expert_ sesuai obsesi saya adalah sesuatu yang autoberat buat saya.
Bagaimana tidak, dengan bekal Ilmu pendidikan formal yang berpindah pindah (dari mulai kesehatan lingkungan, biostatistik, Pembiayaan kesehatan terakhir ahli asuransi) juga riwayat pekerjaan yang tidak linear, semula tenaga labkesda waktu itu, sanitarian, lalu promotor kesehatan, administrasi di keperawatan (bersaudara dengan perawat), sampai dengan perencanaan dan keuangan membuat sulit bagi saya untuk menjadi _expert_ (ahli) . Tapi tidak boleh putus asa, siapa menabur akan menuai pegangan saya.
Setidaknya bermanfaat bagi diri sendiri itu sudah luar biasa (begitulah saya mendamaikan hati sendiri). Bahkan berbahagia itu hal yang sulit bagi seseorang apalagi harus memproduksi hormon bahagia sendiri itu tentunya sangat _out_ _of_ _the_ _box_ di teori motivasi manapun.
Jadi jangan lihat saya ga mampu apa apa ya, yang penting tidak merepotkan yang lain itu sudah hebat 😁. Hebat lagi kalau tidak memiliki hutang. Tapi itu tidak mungkin. Keterampilan saya pertama sejak menjadi cpns adalah menyekolahkan SK saya sehingga juara pertama dalam perhutangan (OMG).
Saya tidak peduli dikata orang saya bodoh, tidak seperti ini itu dsb, yang penting saya berusaha saya belajar, hampir setiap hari saya selalu menyisihkan waktu lebih jam kerja saya untuk mempelajari ilmu baru yang begitu berat bagi saya yang terbatas pengetahuannya.
Berbicara masalah cerdas, pandai, sebenarnya kecerdasan tidak harus otak Kiri. Itulah salah satu kekurangan sistim pendidikan di Indonesia selalu berdasar pada kemampuan otak Kiri. Sehingga siswa yang diakui pandai selalu yang menonjol dalam bidang matematika, fisika, Kimia, biologi, dsb. Jarang orang menilai cerdas pada orang yang pandai bicara, pandai bernyanyi berkarya nyata dsb yang notabene merupakan kemajuan dari otak kanan. Selama Ini kita tidak tahu bahwa ada sekian bentuk kecerdasan di kehidupan kita sehari hari yang semua dbutuhkan untuk hidup dan berkarya.
Pernah suatu saat teman saya berkata : bu Afi maafkan saya tidak bisa bekerja dengan maksimal saya lemot dan tidak bisa cekat ceket (padahal mestinya bidang saya menurut gercep dan konsentrasi yang tinggi). Saya menjawab : setiap manusia dicopykan Allah pasti ada manfaatnya mbak. Justru orang seperti embak saya butuhkan untuk menyeimbangkan saya. Saya berada di gelombang beta, roaming kerja dan dituntut deadline dan menyusun data dengan cepat. Mbak harus menenangkan saya dengan lagu lagu alunan slow yang selalu dia putar, tidak pernah saya tegur karena beliau pun ada manfaatnya sepanjang bersungguh sungguh bekerja meski harus selalu diingatkan.
Hiburan dbutuhkan untuk berfungsi sebagai _booster_ produktifitas, jangan sampai para wanita pekerja menjadi tua sebelum waktunya. Harus selalu memproduksi hormon bahagia.
Apapun hoby kita kembangkan, bertanam melihat hijaunya daun, karaoke/ bernyanyi sendiri melepas penat, menonton yang lucu, memasak, membaca, touring, offroad, musik juga fotografi dsb.
Belajar fotografi dalam hal ini merupakan salah satu alternatif kegiatan di masa new normal, disamping memang hobby dan ada juga yang passionnya bermain foto.
Karena foto menuntun kita turut melihat sesuatu yang indah.Baik obyek alami seperti sanitasinya cantik atau pria tampan gagah, maupun benda dan pamandangan yang cakep juga keren. Salah satu obyek favorite kalangan komunitas penggemar foto adalah foto hitam putih atau sering disingkat dengan bnw ( _black_ _and_ _white_ kurang lebihnya begitu) .
Bagi _newbie_ (pemula) obyek yang tidak butuh modal banyak adalah manusia. Berbeda dengan obyek makanan minuman yang membutuhkan peralatan dan tempat yang mendukung. Juga obyek tempat iindah yang perlu dikunjungi khusus demi mendapat angle atau pemandangan menarik. Ataupun obyek macro yang butuh lensa khusus juga dan harus jeli mencari obyek yang menarik, maka obyek manusia adalah termurah asal kita jeli mengambil gambarnya di event tertentu. Bisa jadi yang menurut kita biasa sebenarnya itu luar biasa jika pandai dalam mengambil angle dan mampu memainkan pencahayaan.
Foto manusia yang bagus bisa berwujud utuh seperti model atau foto candid seperti model di atas. Beberapa yang harus diperhatikan adalah pencahayaan, rule of gird supaya masuk di 4 titik istimewa, _angle_ yang _out_ _of_ _the_ _box_ , sampai editing bisa menggunakan snapseed, _blur_ _effect_ , _healling_ , atau _adobe_ _light_ . Bobot besar jika foto bisa mengandung cerita di dalamnya. Pada hasil foto di atas berjudul "bekerja dengan hati diujung insta sanitasi" diambil sebelum ada bencana non alam covid-19.
Menjadi fotografer handal membutuhkan waktu untuk belajar dan keterampilan khusus. Jam terbang juga berpengaruh terhadap sebuah hasil jepretan foto.
Tidak heran jika hasil foto pemain lama apalagi yang sudah profesional bisa bernilai juta sampai ratusan juta. Bahkan berbagi ilmu kadang dikomersialkan, sebagai contoh 1 kali materi lighting dalam 1 sesi bisa berharga 4 juta, demikian diikuti oleh materi yang lain per materi per person peserta kelas foto. Bahkan mengkomersialkan foto sudah lama merambah dunia kuliner, sehingga tampilan makanan minuman menjadi menarik dan menggugah selera.
Tapi jangan berkecil hati bagi bapak ibu yang ingin belajar foto tanpa kelas. Otodidak juga masih bisa jalan walau tidak sebagus karya karya profesional tentunya. Seperti saya pun sudah puas dengan posisi liker dua puluhan 😊 Setidaknya untuk membantu mengeluarkan hormon endorfin bagi kita di tengah peliknya pekerjaan sehari hari.
Jadi mulai sekarang mari bahagia, dan memproduksi hormon bahagia (jangan lupa yang halal). Supaya bisa lebih mensyukuri hidup dan memulai produktifitas yang lebih besar.
Kademangaran, 1 Juni 2020


Komentar
Posting Komentar