KLINIK BERJEJARING BPJS KESEHATAN

13 Agustus 2016


Ini adalah humanity project saya yang pertama bersama dr Tomo dan ibu hj Win (sejak tergabung di konsultan Adverta), yaitu mendirikan Praktik Rawat Jalan, maupun Klinik berjejaring BPJS Kesehatan yang merupakan tantangan di era JKN sekarang ini. Dorongan berbagai pihak untuk segera berjejaring dengan BPJS Kesehatan walau saat ini banyak informasi miring tentang kemunduran setelah berjejaring dengan BPJS Kesehatan, namun kami tetap mencoba untuk melanjutkan niat awal untuk berjejaring demi menyukseskan program pemerintah juga bergotong royong membantu terlaksananya Universal Health Coverage. Sedih mendengar masyarakat tidak mau mendaftar jadi pesertta BPJS dengan alasan sengaja tidak mendaftar karena sistemnya susah, lama dsb.

Pada masa JKN sekarang ini banyak keluhan untuk Dokter Praktik Perorangan (DPP) maupun Klinik Pratama yang berjejaring dengan BPJS Kesehatan. Baik DPP maupun Klinik Pratama pembayaran menggunakan model pembayaran Kapitasi. Kapitasi yaitu pembayaran di awal bulan tanpa melihat jumlah dan jenis yang dibayarkan.

Saat in penerapannya besaran kapitasi pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (fktp) dengan mempertimbangkan sumber daya manusia, kelengkapan sarpras, lingkup pelayanan dan komitmen pelayanan.Dibayarkan b erdasarkan kepesertaan yang terdaftar di faskes tersebut, dengan tarif DPP maupun Klinik pratama antara 8-10 ribu. Klinik lebih menguntungkan daripada DPP karena dapatmengeluarkan obat setelah periksa sedangkan dokter tidak boleh dispensing dalam pengobatan.
Sejauh ini pembayaran kapitasi dengan melihat sumber daya manusia, kelengkapan sarpras, lingkup pelayanan dan komitmen pelayanan.

Hal yang pertama dilakukan adalah pengajuan DPP menjadi Dokter Keluarga atau Klinik Pratama, setelah itu baru akan dicredentialing BPJS KEsehatan. Tentunya sesuai dengan Permenkes 028 tahun 2011. Klinik yang mengajukan berjejaring harus berijin, mempunyai peraturaninternal dan Standard Operating Prosedur (SOP) Pelayanan, Ilmu manajerial dan komunikasi klinik. Stressing pada manajemen waktu, manajemen SDM, manajemen kontrol transaski dan keuangan, serta manajemen marketing, Jangan salah,para dokter pu sekarnag dituntut untuk dapat pandai menjalanakan marketing pelayanan.


Filosofi pendapatan, menurut Adam Khoo dan Tung Desem Waringin :
Penghasilan = waktu  x nilai tambah x faktor kali/ skalabilitas
Jika ingin pendapatan bertambah maka harus bisa memberi nilai tambah, lebih banyak waktu dan lebih banyak  kali yang dimanfaatkan.

Beberapa hal yang dapat dijalankan untuk menambah surplus DPP atau Klinik :
1. Adanya Laboratorium dapat melayani layanan yang tidak masuk  tarif kapitasi
2.Berafiliasi dengan apotek,selama ini menggunakan obat DPHO (Daftar Plafon Harga Obat)
3. Biaya Kapitasi
    ingin surplus? maka perkecil pasien sakit, dengan meningkatkan upaya promotif preventif, bisa mengadakan kegiatan pengelolaan pasien prolanis, konseling, dsb. Banyaknya pasien terdaftar menjadi peserta (meningkatkan kapitasi) apalagi jika pasien sakit sedikit (untuk yang klinik rawat inap) akan lebih menguntungkan lagi mengingat klaim per hari untuk saat ini masih Rp. 120.000,- jadi minimalkan pasien sakit.
4. Berafiliasi dengan dokter gigi. Saat ini masih sedikit praktik dokter gigi yang berjejaring dengan BPJS Kesehatan. Jika dilihat peluang pendapatan, hal ini adalah peluang yang bagus karena kepesertaan pasti akan banyak, apalagi jika pasien sakit nya lebih sedikit akan menjadikan surplus lagi bagi badan usaha.
5 Dan banyak seni untuk mencapai surplus pendapatan bagi DPP maupun Klinik Pratama untuk berjearing dengan BPJS Kesehatan

Semoga dapat menjalankan project jejaring dengan BPJS Kesehatan

Sumber :

1. Materi Asuransi

2. Media Pembiayaan, Jaminan dan Asuransi Kesehatan




4. http://health.kompas.com/read/2014/03/30/1029585/Tepat.Layani.Pasien.JKN.Klinik.Takkan.Merugi.

Komentar

Postingan Populer