AFIATI -3 Maret 2015 KANKER

PENYAKIT KATASTROFIK TANTANGAN PENDANAAN JKN

Oleh : Afiati


Menipisnya Dana Pembiayaan Kesehatan

Kepesertan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) setelah satu tahun berjalan sudah menunjukkan peningkatan dalam perkembangannya. Banyak masyarakat yang aware dan segera mendaftar menjadi peserta (angka kepuasan BPJS melebihi target pemerintah), tercatat sejak awal Januari 2014 sampai dengan 30 September 2014 jumlah peserta mandiri (bukan penerima upah) tercatat 5.958.000 melonjak tajam dari Januari yang hanya berjumlah 236.627.


Sayangnya dari meningkatnya kepesertaan ini adalah adanya seleksi balik (adverse selection), yaitu peserta yang banyak mendaftar adalah peserta dengan penyakit kritis dan katastrofik. Tidak jarang juga peserta lain yang sudah sembuh menghentikan iurannya setelah sembuh dari sakitnya. Peserta mandiri memang meningkat tajam, tetapi 30,1% adalah sakit katastrofik (sakit kritis yang dengan cepat menghabiskan asset kekayaan pasien), lainnya Pekerja Penerima Upah 24,1%, Penerima Bantuan Iuran dana APBN 20,1%, Bukan Pekerja 19,4%, Penerima Bantuan Iuran APBD 5,7% (Kemenkes, 2014).
Data hasil analisis klaim Rumah Sakit, melaporkan kunjungan rawat inap pasien penyakit katastrofik periode Januari-Juli 2014 yaitu Jantung sebanyak 232.010 pasien, stroke 172.303 pasien, ginjal 138.779 pasien, diabetes 70.584 pasien, kanker 56.033 pasien, thalassemia 53.948 pasien dan hemophilia 12.170 pasien (Persi, 2014). Perbandingan pemasukan dengan pengeluaran yang tidak seimbang sampai mendesak pemerintah harus mengeluarkan anggaran tambahan sebesar 4T pada awal tahun 2015 ini.


Kanker Salah Satu Penyakit Kritis Penggerus Dana JKN

Salah satu penyakit kritis yang mendapat perhatian adalah penyakit kanker (termasuk NCD atau Non-communicable disease) meskipun bukan merupakan pembunuh teratas masyarakat Indonesia saat ini. Penyakit kanker mendapat perhatian disamping penyakit kritis lainnya karena juga merupakan penyebab kematian yang relatif besar di dunia.
Gambar 1 Pergeseran Penyebab Kematian Manusia di Dunia
Jones D et al. (2012) cit Joana (2015).
Gambar 2 Proyeksi Penyebab Kematian Menurut Perekonomian Negara
WHO (2004) cit Joana (2015)

Penyakit kanker pada negara berpenghasilan ekonomi menengah justru lebih banyak daripada negara kaya atau miskin. Prevalensi penyakit kanker 1,4 per mil. Prevalensi kanker ada pada bayi (3 ‰) dan meningkat pada umur ≥ 15 tahun dan tertinggi pada umur ≥ 75 tahun (5‰). Prevalensi kanker pada perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Pada penyakit kanker, prevalensi cenderung lebih tinggi pada pendidikan dan pada kelompok dengan kuintil indeks kepemilikan teratas (mampu) meskipun banyak juga yang menimpa orang tidak mampu.
Data Litbang Kemenkes (2011) menyebutkan, bahwa prevalensi kanker berdasarkan provinsi menunjukkan bahwa  ada lima provinsi yang prevalensi kankernya melebihi prevalensi kanker nasional (>5,03%), yaitu Provinsi DIY (9,66%) (belum diteliti mengenai hal ini tetapi perlu curiga karena makanan khas yaitu gudeg pada pemasakan yang berulang ditengarai merupakan karsinogenik) , Provinsi Jawa Tengah (8,06%),  Provinsi DKI Jakarta (7,44%), Provinsi Banten (6,35%), dan Provinsi Sulawesi Utara (5,76%).

Tabel Perubahan Beban Penyakit antara 1990-2015 di Indonesia,
Beban dihitung sebagai Disability-Adjusted Life Years (DALYS)

1990
2010
2015
Ispa (urutan 1)
Stroker (urutan 1)
Stroke (urutan 1)
TBC (urutan 2)
Kecelakaan lalin (urutan 3)
Kecelakaan Lalin (urutan 2)
Diare (urutan 3)
Jantung Iskemik (urutan 5)
Jantung Iskemik (urutan 3)
Stroke (urutan 4)
Diabetes Melitus (urutan 6)
Kanker (urutan 4)
Kecelakaan lalin
(urutan 5)
Low Back Pain
(urutan 7)
Diabetes Melitus (urutan 5)
Low Back Pain
(urutan 11)
Depresi (urutan 8)
TBC (urutan 6)
Jantung Iskemik
(urutan 13)

Ispa (urutan 7)
Diabetes Melitus
(urutan 16)

Depresi (urutan 8)
(Joana, 2015)

Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada triwulan III-2014 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa (Data BPS, 2012 menyebutkan bahwa pulau Jawa merupakan pulau terpadat penduduknya yaitu 1.055,41 ribu/ km2)  yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 58,51 persen (dipengaruhi oleh empat provinsi penyumbang terbesar aitu  DKI Jakarta 6,02%, Jawa Timur 5,91%, Jawa Barat 5,61%, dan Jawa Tengah 5,45%), dengan pertumbuhan y-on-y. Produksi tersebut jauh melebihi kontribusi daerah lain seperti Pulau Sumatera sebesar 23,63 persen, Pulau Kalimantan 8,21 persen, dan Pulau Sulawesi 4,97 persen, dan Bali dan Nusa Tenggara 2,5 , Maluku dan Papua 2,18 (BPS, 2014).
Angka kontribusi PDB tersebut bertentangan yaitu beberapa provinsi terpadat yang menghasilkan PDB terbanyak memiliki cut of Point Garis Kemiskinan tahun 2011 (BPS, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat risiko biaya pengeluaran yang besar sehingga menimbulkan indeks Gini yang tinggi pada beberapa provinsi produktif di Jawa. Hal ini karena meningkatnya belanja Out of Pocket (pengeluaran dari saku sendiri), diantaranya terbesar berasal dari pengeluaran untuk kesehatan. Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa beberapa Provinsi dengan PDB besar, memiliki batas garis kemiskinan rendah yang menunjukkan indeks Gini yang besar diindikasikan Out of Pocket yang besar pula terutama pada factor risiko quintil terndah.

Beberapa Faktor Risiko 

Beberapa factor risiko yang dapat memicu timbulnya kanker antara lain intake makanan yang tidak sehat, pola hidup tidak sehat, kebiasaan merokok, factor pencemaran lingkungan. Diantara makanan yang tidak sehat itu (high risk) adalah makanan tinggi lemak, tinggi karbohidrat, tinggi garam, dan kebiasaan minum alkohol.
1.      Kebiasaan Merokok
Data Riskesdas (2013) menunjukkan rerata batang rokok yang dihisap per hari per orang di Indonesia adalah 12,3 batang (setara satu bungkus). Jumlah rerata rokok terbanyak yang dihidap ditemukan di Bangka Belitung (18 batang) dan di Riau (16-17 batang).


2.   Pola konsumsi makanan berisiko


Gambar 3 Proporsi penduduk ≥10 tahun yang mengonsumsi makanan berisiko >1 kali sehari, (Riskesdas, 2013)




Gambar 4. Kecenderungan Penduduk umur ≥10 tahun perilaku konsumsi makanan berisiko >1 kali sehari, Indonesia tahun 2007 dan 2013  (Riskesdas, 2013)


Gambar 5. Proporsi penduduk umur ≥10 tahun menurut frekuensi makanan bersumber tepung terigu ≥1 kali/hari (Riskesdas, 2013)



Gambar 6. Proporsi penduduk umur ≥10 tahun menurut frekuensi makanan bersumber tepung terigu ≥1 kali/hari (Riskesdas, 2013)

Beberapa factor risiko kanker di atas belum ditambah dengan konsumsi makanan dengan pengawet dengan kuantitas dan kualitas yang tidak direkomendasikan BPOM, maupun makanan dengan pewarna (seperti kerupuk mie kuning sebagian besar masih menggunakan pewarna tekstil). Ironinya justru kebiasaan konsumsi makan sayur dan buah hanya 10,7%. Hal ini memerlukan pembinaan dan pengawasan lintas program lntas sector.
Berdasarkan banyaknya penderita, penyakit kritis pada urutan pertama di Indonesia adalah jantung dan tumor, serta hipertensi. Prediksi Kemenkes pada tahun 2011, jumlah penderita kanker akan mendekati penyakit jantung dan stroke, yaitu sekitar 230 ribu. Sementara itu, jumlah pasien kanker, penyakit jantung dan stroke akan diproyeksikan mencapai 750 ribu (sementara Riskesdas 2013 mencatat penderita stroke masih berada pada posisi teratas penyebab kematian di Indonesia sekarang ini).


Kesimpulan dan Saran :
1.   Pemasukan JKN lebih kecil daripada pengeluaran (meskipun banyak penyebab seperti kurangnya Monev dan pengawasan lembaga-lembaga yang, masih lemahnya proteksi pembiayaan, perlunya penguatan ekonomi masyarakat, serta pengawasan dan punishment terhadap kemungkinan moral hazard (termasuk abuse) maupun fraud) tetapi pada kesempatan ini yang diperhatikan adalah penyakit katastrofis sebagai salah satu penyebab besarnya pengeluaran anggaran JKN.
2.   Pergeseran life style masyarakat yang menganggap pola makan dan pola hidup tidak sehat merupakan pola hidup yang bergengsi
3.   Masih banyak beredar makanan yang tidak sehat di masyarakat

Saran :
1.   Terus meningkatkan kepesertaan JKN (untuk peningkatan premi sudah direkomendasikan dan driencanakan akan naik premi untuk PBPU dan PBI paling cepat pertengahan tahun sampai tahun depan)
2.   Mempertahankan sustainabilitas dengan sosialisasi pentingnya azas gotong royong dalam masyarakat
3.   Akselerasi integrasi Jaminan Kesehatan Daerah
4.   Meningkatkan IT BPJS sehingga memudahkan akses pendaftaran
5.   Mengingatkan pentingnya peranan promotif dan preventif dalam kesehatan maka perlu penguatan SDM maupun bantuan moril dan materiil dalam pelaksanaan program dari Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, tidak menutup bantuan dari instansi lain yang memungkinkan
6.   Meningkatkan pembinaan dan pengawasan makanan minuman dan lingkungan.














Komentar

Postingan Populer