IAFIATI - HOUSEHOLD EXPENDITURE IN JAWA AND BALI 2011
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Tujuan pertama dari
Pembangunan Milenium (Millenium
Development Goals) berdasarkan kesepakatan 189 negara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai September 2000
adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan dengan target sampai dengan 2015.
Diharapkan pendapatan populasi dunia sehari $10.000 serta menurunkan angka kemiskinan (BPS, 2012a).
Pada
Juni 2013 Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 28,07 juta jiwa atau sekitar 11,37 persen dari total
penduduk, yang telah menurun tipis 0,59 persen atau sebesar 1,06 juta jiwa dibandingkan tahun
sebelumnya (Penurunan rata-rata 0,87 persen per tahun) (Web Presiden R.I., 2013). Rendahnya penurunan angka kemiskinan ini disebabkan meningkatnya pengeluaran kesehatan baik final seluruh
masyarakat
maupun perkapita masyarakat Indonesia, menyebabkan indeks Gini mendekati 0,4 (mendekati sedang).
maupun perkapita masyarakat Indonesia, menyebabkan indeks Gini mendekati 0,4 (mendekati sedang).
Dalam BPS (2013) terlihat peningkatan pengeluaran
kesehatan non bahan makanan termasuk di dalamnya barang dan jasa melebihi pengeluaran bahan makanan, hal ini
menunjukkan peningkatan pendapatan, yang mengakibatkan penurunan tipis dari
pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran barang dan jasa dalam hal ini khususnya
sektor kesehatan. Sektor kesehatan memberikan kontribusi yang
cukup besar dalam pengeluaran rumah tangga miskin, termasuk di dalamnya out of pocket kesehatan yang semakin
tahun juga semakin meningkat. Di Indonesia saat ini mekanisme
pembiayaan sektor kesehatan terbesar adalah pengeluaran kesehatan dari saku
sendiri oleh masyarakat (out
of
pocket)
(Malik & Syed, 2012).

Gambar
1Trend Pengeluaran dan Indeks Gini
Indonesia Tahun 2003-2011 (Trimester Pertama dan Kedua) (BPS, 2013)

Gambar
2. Trend Pengeluaran Berdasarkan
Status Ekonomi Indonesia
Tahun
2003-2011 (Trimester Pertama dan Kedua) (BPS, 2013)
Pengeluaran barang dan jasa termasuk di dalamnya out of pocket kesehatan yang semakin
meningkat berlawanan dengan menurun tipisnya pengeluaran dari 40% masyarakat
termiskin, sehingga mendorong diterbitkannya Perpres
Nomer 15 Tahun 2010 Pasal 3 Percepatan Penanggulangan Kemiskinan ayat (1)
Mengurangi Beban Pengeluaran Masyarakat Miskin (Perpres, 2010),
juga dengan diselenggarakannya program Jaminan
Kesehatan Masyarakat untuk memberi perlindungan pembiayaan masyarakat miskin. Out of pocket yang tetap naik dengan
adanya bantuan proteksi pembiayaan bisa menjadi indikasi
kurangnya jaminan/ asuransi yang menimbulkan hambatan keuangan untuk konsumsi
pelayanan kesehatan oleh masyarakat miskin jika
tidak ada pembagian risiko keuangan (Roy & Howard, 2007; Fan et al,
2012).

Gambar
3 Persen Kemiskinan dan Out of Pocket
Indonesia
Tahun
2003-2011 (BPS, 2013)
Pengeluaran kesehatan di sektor kesehatan yang semakin
meningkat tersebut disamping karena faktor masih kurangnya pembiayaan, kondisi
intern rumah tangga seperti jumlah anggota rumah tangga, juga disebabkan
semakin tingginya biaya beberapa hal yaitu pemanfaatan rumah sakit, penerapan
teknologi canggih, perkembangan sub spesialis ilmu kedokteran, obat-obatan dan alat habis pakai (orientasi
pembiayaan kuratif) (Mcintyre & Thiede,
2005; Doorslaer et al., 2005), karakter "supply induced demand" (Hendrartini, 2010),
inflasi juga adanya liberalisasi dan marketisasi pelayanan kesehatan (Xu et al.,
2006; Sciortino et al.,
2010), kurangnya asuransi/ jaminan (Roy & Howard, 2007; Fan et al,
2012), faktor
sosial determinan seperti tempat tinggal juga pola penyakit kronik dan
degeneratif pada usia lanjut terutama masyarakat
miskin (Etienne, 2010; Acharya et al., 2011), apalagi Indonesia kedepannya diprediksikan memasuki ageing structured population) yaitu
rata-rata penduduk usia 60 tahun ke atas minimal 7% (Kemsos, 2012).
Pengeluaran biaya kesehatan disamping disebabkan
faktor intern rumah tangga, yang berperan besar lainnya adalah pemanfaatan
rumah sakit,seperti disebutkan dalam penelitian sebelumnya bahwa 10% rumah tangga termiskin harus menghabiskan 230%
penghasilannya sebulan untuk membiayai sekali rawat inap anggota keluarganya.
Sementara dalam penelitian Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 1998
disebutkan bahwa rata-rata orang di Indonesia jika sekali sakit dan dirawat di
rumah sakit maka ia harus kehilangan penghasilannya selama 1-3 bulan sedangkan
untuk 20% kelompok penghasilan terendah harus kehilangan sekitar 8 bulan
penghasilannya (Thabrany et al., 1999, cit. Mukti, 2004), sehingga rumah sakit menjadi
sumber pengeluaran terbesar bidang kesehatan
di
sebagian besar negara maju dan berkembang.
Pada pengeluaran barang dan jasa untuk kesehatan,
kemampuan pembiayaan yang rendah dapat disebabkan
masyarakat miskin yang sakit telah
menjadi cacat atau kematian dini, serta
kehilangan pekerjaan yang berakibat
menurunnya pendapatan (Fan et al., 2012), lebih-lebih pada seseorang yang menderita
penyakit katastropis yang dapat menyebabkan
SADIKIN “sakit sedikit menjadi miskin”
akan semakin memperparah status kemiskinannya (Mukti, 2004; Indriasih, 2010). Di Indonesia masyarakat belum semua memiliki jaminan
atau asuransi kesehatan, menurut data Kementerian
Kesehatan tahun 2011 ada 38% masyarakat yang belum memiliki asuransi/ jaminan
kesehatan.

Gambar 4.
Cakupan Jaminan Kesehatan Indonesia Tahun 2011 (Kementerian Kesehatan, 2011)
Penurunan tipis kemiskinan pada masyarakat tersebut
disebabkan adanya bantuan pembiayaan berupa jaminan atau asuransi di masyarakat
karena belum semua penduduk mendapat proteksi pembiayaan baik dari pemerintah
maupun dari lainnya. Pada tahun 2011 sebagian besar masyarakat khususnya
masyarakat miskin mendapat perlindungan dari pemerintah, juga bantuan pendanaan
dari pemerintah daerah setempat, pendanaan dari Asuransi Kesehatan (Askes),
Jamsostek, jaminan perusahaan, jaminan dari TNI/ Polri maupun yang mandiri dari
pendanaan asuransi swasta selebihnya merupakan masyarakat yang sama sekali
belum mendapat proteksi pembiayaan. Hal tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran
kesehatan pada masyarakat yang belum kita ketahui tingkat katastrofiknya pada
masyarakat Indonesia.
Tabel 1. Jumlah Kunjungan dan Banyaknya Rumah Sakit
Per Pulau
di Indonesia Tahun 2011
No
|
Pulau
|
Penduduk
(juta)
|
Kunjungan
|
Jumlah RS
|
||
Publik
|
Swasta
|
Total
|
||||
1
|
Sulawesi
|
37.804,4
|
412.578
|
358
|
77
|
435
|
2
|
Jawa Bali
|
110.501
|
949.084
|
675
|
209
|
884
|
3
|
Sulawesi
|
15.123,2
|
123.501
|
54
|
1
|
55
|
4
|
Kalimantan
|
10.161,1
|
111.413
|
72
|
12
|
84
|
5
|
NTT NTB
|
9.184
|
80.574
|
49
|
2
|
51
|
6
|
Maluku dan Papua
|
6.165,4
|
42.937
|
74
|
4
|
78
|
Sumber : World Bank, 2008; Kemenkes, 2011; BPS, 2012b
Tabel 2. Kepadatan Penduduk Indonesia Berdasarkan
Pulau Tahun 2011
No
Pulau
|
Luas (km²)
|
N (ribu)
|
Kepadatan
(N/km²)
|
|
1 Sumatera
|
480.793,30
|
50.631
|
105,31
|
|
2 Jawa
|
129.438,30
|
136.611
|
1.055,41
|
|
3 Bali
|
5.780,06
|
3.891
|
673,14
|
|
4 Kalimantan
|
544.150,10
|
13.788
|
25,34
|
|
5 Sulawesi
|
188.522,40
|
17.372
|
92,15
|
|
6 Maluku &
Papua
|
494.956,90
|
6.165
|
12,46
|
|
7 Nusa Tenggara
|
67.290,42
|
9.184
|
136,48
|
Sumber : BPS, 2012b
Jawa dan Bali karena
merupakan wilayah yang memiliki peranan penting karena termasuk
wilayah Kawasan Barat Indonesia
(KBI) dengan kepadatan
penduduk terbesar di Indonesia, di atas
500 orang per km² (BPS, 2012b), juga karena banyaknya jumlah kunjungan dan
peningkatan rumah sakit yang besar dibanding di pulau lainnya.
Komentar
Posting Komentar