100 Tahun Prof Siwabessy, Bapak Atom Indonesia Perintis Cikal Bakal BPJS
Sabtu, 30/08/2014 08:06 WIB
Jakarta, Kementerian Kesehatan menggelar peringatan 100 tahun Prof Dr GA Siwabessy, mantan menteri kesehatan yang menjabat pada 1996-1978. Prestasinya mengagumkan, mulai dari pemberantasan penyakit cacar hingga melahirkan cikal bakal BPJS.
Gerrit Agustinus Siwabessy adalah bungsu dari 4 bersaudara yang lahir pada 19 Agustus 1914 di Pulau Saparua, Maluku Tengah. Lulus dari MULO (setingkat SMP) di Ambon, ia melanjutkan ke sekolah kedokteran NIAS (Neederlandsch Indische Artsen School) Surabaya, yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Lulus sebagai dokter, Siwabessy mendalami ilmu radiologi. Bidang keilmuwan tersebut mengantarnya berguru ke Universitas London, Inggris, dengan beasiswa dari British Council.
Selama di Inggris, Siwabessy tidak hanya belajar radiologi. Ia mempelajari juga sistem kesejahteraan di bidang kesehatan yang kemudian dikembangkannya saat menjabat Menteri Kesehatan beberapa tahun kemudian. Sistem itulah yang kemudian dikenal sebagai ASKES, cikal bakal BPJS.
Di bidang radiologi, kiprahnya masih bisa dirasakan sampai sekarang. Departemen Radioterapi di RS Cipto Mangunkusumo dan fasilitas pengobatan dengan nuklir di RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto yang masih digunakan hingga saat ini adalah rintisan Siwabessy.
Saat Amerika Serikat meledakkan bom hidrogen pertama berkode Ivy Mike di Kepulauan Marshall Samudera Pasifik pada 1952, Siwabessy kembali menunjukkan kiprahnya ahli nuklir. Presiden Soekarno menunjuknya sebagai pimpinan Panitia Penyelidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom, membawahi anggota dari berbagai elemen, seperti Angkatan Darat, Angkatan Udara, badan meteorologi, RSPAD, dan sejumlah universitas.
Tahun 1962, Soekarno meresmikan BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) dengan Siwabessy sebagai direktur jendral pertamanya. Siwabessy lalu diangkat menjadi Menteri Badan Tenaga Atom Nasional pada 1965. Atas jasanya mengembangkan teknologi atom, ia mendapat Bintang Mahaputera III pada 1968 dan dinobatkan sebagai Bapak Atom Indonesia
Gerrit Agustinus Siwabessy adalah bungsu dari 4 bersaudara yang lahir pada 19 Agustus 1914 di Pulau Saparua, Maluku Tengah. Lulus dari MULO (setingkat SMP) di Ambon, ia melanjutkan ke sekolah kedokteran NIAS (Neederlandsch Indische Artsen School) Surabaya, yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Lulus sebagai dokter, Siwabessy mendalami ilmu radiologi. Bidang keilmuwan tersebut mengantarnya berguru ke Universitas London, Inggris, dengan beasiswa dari British Council.
Selama di Inggris, Siwabessy tidak hanya belajar radiologi. Ia mempelajari juga sistem kesejahteraan di bidang kesehatan yang kemudian dikembangkannya saat menjabat Menteri Kesehatan beberapa tahun kemudian. Sistem itulah yang kemudian dikenal sebagai ASKES, cikal bakal BPJS.
Di bidang radiologi, kiprahnya masih bisa dirasakan sampai sekarang. Departemen Radioterapi di RS Cipto Mangunkusumo dan fasilitas pengobatan dengan nuklir di RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto yang masih digunakan hingga saat ini adalah rintisan Siwabessy.
Saat Amerika Serikat meledakkan bom hidrogen pertama berkode Ivy Mike di Kepulauan Marshall Samudera Pasifik pada 1952, Siwabessy kembali menunjukkan kiprahnya ahli nuklir. Presiden Soekarno menunjuknya sebagai pimpinan Panitia Penyelidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom, membawahi anggota dari berbagai elemen, seperti Angkatan Darat, Angkatan Udara, badan meteorologi, RSPAD, dan sejumlah universitas.
Tahun 1962, Soekarno meresmikan BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) dengan Siwabessy sebagai direktur jendral pertamanya. Siwabessy lalu diangkat menjadi Menteri Badan Tenaga Atom Nasional pada 1965. Atas jasanya mengembangkan teknologi atom, ia mendapat Bintang Mahaputera III pada 1968 dan dinobatkan sebagai Bapak Atom Indonesia
Kontribusi penting di bidang kesehatan
Atas permintaan Soekarno, pada 1966 Siwabessy diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Tugas ini diembannya hingga 29 Maret 1978 saat Presiden Soeharto berkuasa, sekaligus menjadikannya sebagai menteri kesehatan yang menjabat paling lama sepanjang sejarah.
Sederet pencapaian ditorehkannya selama 12 tahun menjabat. Sejak tahun 1967, ia aktif dalam program Global Smallpox Eradication Programme (SEP) dan 5 tahun kemudian WHO mengakui keberhasilannya memberantas penyakit cacar di Indonesia.
Di bidang sanitasi, ia mewariskan program Samijaga, singkatan dari Sanitasi, Air Minum, dan Jamban Keluarga. Program ini diterapkannya di seluruh Indonesia, bersama dengan pembangunan saran kesehatan seperti Puskesmas dan seluruh tenaganya.
"Keduanya, pemberantasan cacar dan Samijaga, adalah kontribusi penting Prof Siwabessy dalam kesehatan," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, saat menyampaikan sambutan dalam peringatan 100 tahun Prof Siwabessy di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jumat malam (29/8/2014).
Atas jasanya di bidang kesehatan, pada 1973 Siwabessy mendapat anugerah Bintang Mahaputera II dari Pemerintah Indonesia. Ia meninggal di suatu malam yang tenang di Jakarta pada 11 November 1982, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
detikhealth
Atas permintaan Soekarno, pada 1966 Siwabessy diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Tugas ini diembannya hingga 29 Maret 1978 saat Presiden Soeharto berkuasa, sekaligus menjadikannya sebagai menteri kesehatan yang menjabat paling lama sepanjang sejarah.
Sederet pencapaian ditorehkannya selama 12 tahun menjabat. Sejak tahun 1967, ia aktif dalam program Global Smallpox Eradication Programme (SEP) dan 5 tahun kemudian WHO mengakui keberhasilannya memberantas penyakit cacar di Indonesia.
Di bidang sanitasi, ia mewariskan program Samijaga, singkatan dari Sanitasi, Air Minum, dan Jamban Keluarga. Program ini diterapkannya di seluruh Indonesia, bersama dengan pembangunan saran kesehatan seperti Puskesmas dan seluruh tenaganya.
"Keduanya, pemberantasan cacar dan Samijaga, adalah kontribusi penting Prof Siwabessy dalam kesehatan," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, saat menyampaikan sambutan dalam peringatan 100 tahun Prof Siwabessy di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jumat malam (29/8/2014).
Atas jasanya di bidang kesehatan, pada 1973 Siwabessy mendapat anugerah Bintang Mahaputera II dari Pemerintah Indonesia. Ia meninggal di suatu malam yang tenang di Jakarta pada 11 November 1982, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
detikhealth


Komentar
Posting Komentar